Senin, 29 Mei 2017

mangkulan ali imron 103 jokam LDII

Tidak disalahkan juga surat Ali-Imron ayat 103 membicarakan tentang Al-Jama’ah wal Imamah. Ini banyak dikupas di Kitab-kitab rujukan seperti di dalam kitab al amru bi luzumi jama’atil muslimin wa imamihim wat tahziru min mufaraqatihim yang ditulis oleh Syeikh Abdusalam bin Barjaz Abdulkarim.
Kitab-kitab dari Syeikh Abdul Salam bin Barjaz ini banyak dijadikan oleh rujukan oleh ulama-ulama di Pusat (namun sayang, banyak yang dipotong-potong oleh pusat yang disampaikan ke jama’ah, sehingga banyak bab-bab yang bertentangan dengan praktek Imamah di Jama’ah 354 tidak disampaikan atau disensor)

Namun syubhat yang terjadi dalam Jama’ah jokam adalah
1. Jama’ah wal Imamah pada konteks surat Ali Imron membicarakan Umat Islam beriltizam dibawah penguasanya, namun di jama'ah jokam kita ini ditujukan untuk exclusive jama'ah 354 dan Imam yang dibai'atnya
2. Dalil ini disusupi syubhat bahwa sah atau tidaknya sah-nya keislaman seseorang harus berbai’at pada Imam. Ini mengindikasikan Ulama kita di pusat belum memahami akidah yang benar sehingga salah menaruh porsi bab bai’at pada ke-absahan Islamnya seseorang
3. Akibat termakan syubhat dan ketergelinciran dalam memahami Ayat Ali Imron ayat 103 berbuahkan sikap hizbi dan takfiri.
4. Akibat termakan syubhat dan ketergelinciran dalam memahami Ayat Ali Imron ayat 103 berbuahkan motto “ ikut jama’ah kami adalah praktek menjalankan iltizam pada Al Jama’ah dan tidak ikut jama’ah kami artinya firqoh.
5. Akibat termakan syubhat dan ketergelinciran dalam memahami Ayat Ali Imron ayat 103 berbuahkan pengertian : tidak berbai’at pada Imam kami, maka islamnya tidak sah.
6. Akibat termakan syubhat dan ketergelinciran dalam memahami Ayat Ali Imron ayat 103 berbuahkan pengertian : tidak mengakuinya Pemerintah/Penguasa sebagai Amir/Sulton/Imam/Waliyul Amr
7. Akibat termakan syubhat dan ketergelinciran dalam memahami Ayat Ali Imron ayat 103 berbuahkan sikap-sikap kelanjutannya seperti tidak mau sholat berjama’ah dengan kaum muslimin yang imam sholatnya bukan dari jama’ahnya dst ds


Ibu mengapa kau kafirkan aku, sebuah novel tentang jama'ah LDII

Alif Harisman, seorang Mubaligh Jokam, dia pernah menjadi MT untuk daerah Bandung dan Jakarta Timur. Tumbuh besar di salah Pusat Komune Jokam, yaitu di Perak Gading Mangu Jombang.
Iman begitu nama singkatnya, seperti halnya para saudara-saudara kita yang keluar dari Jokam juga mengalami hal yang sama : dimurtadkan, diancam pembunuhan (karena dianggap murtad), diusir, dan istrinya “diculik” oleh pengurus supaya minta cerai pada mas Iman.
Bahkan sang Istri sampai membikin akte surat-kematian palsu yang menerangkan suaminya (mas Iman) sudah meninggal agar proses penceraikan bisa dilaksanakan di pengadilan.
Itu cuma sebagian kecil dari masalah sosiologis yang diakibatkan dari pencekokan doktrin yang diprakarsai oleh Bp Hj Nurhasan.
Sebuah penerbit besar di Jakarta, Penerbit Al-Kautsar tertarik untuk mengangkat kisah hidup dari mas Iman ini. Insya Allah sebelum Ramadhan, buku ini sudah muncul di rak-rak Gramedia dan di toko-toko besar lainnya dibawah jaringan penerbit Al-Kautsar.
sengaja nama LDII diganti menjadi BADI ( Badan Amal Dakwah Indonesia) supaya menghindari konflik hukum namun jalan cerita tetap konsisten yaitu menceritakan mengenai Jama'ah kita seolah kita sendiri yang mengalami peristiwa yang ada di dalam novel ini.
Buku ini berniat untuk memotret apa adanya mengenai adat istiadat dan sistem kepercayaan jama’ah Jokam. Kalau kita membacanya tentu kita akan menganguk-angguk setuju karena yang ditulis dalam buku itu memang kita alami dan kita saksikan dalam jama’ah kita. Semata-mata buku ini ditujukan untuk menilai jama’ah kita apa adanya, tidak ada tendensi apa-apa kecuali agar masyarakat bisa melihat jama’ah kita dengan obyektif, dan agar semua kejelekan ajaran-ajaran bp Nurhasan tidak menular pada kaum muslimin lainnya. Ingat : Jama’ah Jokam itu tidak bersalah, Jama’ah hanya victim dan korban dari sebuah doktrin. Mereka adalah orang-orang baik yang ingin masuk syurga hanya saja menempuh jalan yang menyimpang.
Dengan adanya buku ini juga bisa dijadikan bahan koreksi dan refleksi bagi LDII yang konon katanya sudah berparadigma baru namun pada praktek di lapangan retorika Paradigma baru seperti hanyalah pepesan kosong belaka (hipokrit).




masuk LDII dijamin masuk ketengah-tengah surga? sebuah analisa dalil yang menyimpang LDII

dari makalah CAI
Siapa di antara kita yang belum pernah mendengar hadits Rasulullah yang berbunyi:
مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ
yang artinya : barang siapa yang menghendaki tengah-tengahnya syurga, maka tetapilah Jama'ah
(HR Tirmizi, hasan Shahih Gharib No 2165)
siapa yang tidak mau tinggal di tengah-tengah syurga?
Pasti mau semua ya ?!
Alhamdulillah.
caranya bagaimana?
Ya....ber-iltizamlah terhadap Jama'ah.
Rasulullah mengunakan kata ' بُحْبُوحَةَ " a(Buhbuhata) itu artinya suatu kondisi disuatu tempat yang paling tengah dan yang paling baik
Abu ubaid Rahimahullah menjelaskan bahwa "buhbuhatul Jannah" artinya tengah-tengahnya syurga . kata-kata ' بُحْبُوحَةَ " adalah segala sesuatu berada ditengah-tengahnya dan yang paling bagus (Lisaanul Arab 2/407).
muhammad bin Abdurahman bin Abdul Rohim Al Mubarakfuri sang penulis Syarh Hadits Tirmizi mendefinisikan hal yang senada mengenai بُحْبُوحَةَ " yaitu
(مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنّةِ) بضمِّ الموحَّدتيْن، أيْ: مَنْ أراد أنْ يسكن وسطها وخيارها.
Siapa saja yang ingin menetap di syurga, ditegah-tengahnya dan di tempat yang paling indah#
***
Alhamdulillah, dalam Kitab Syarh Asmaul Husna kita, dijelaskab bahwa salah satu kitab yang dijadikan acuan dan referensi adalah kitab Tuhfatul Ahwadz, karya Syaikh Abu Al Ula MuhammadAbdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri
Kitab ini adalah Syarh dari Hadits Imam tirmizi
**
maka, bagaimana apabila kita ingin dapat tinggal di-tengah-tengah syurga?
rasulullah bersabda :
فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ
maka tetapilah Al-Jama'ah
Kata " فَلْيَلْزَمِ" adalah bentuk kata kerja perintah ( Fi'il Amr/ Imperative)
Sedangkan Al-Jam'ah?
Siapakah yang dimaksud Al Jama'ah dalam hadits ini?
yuk kita lihat syarh Hadits Tirmizi-nya..
dalam syarh Tuhfatul Ahwadz dijelaskan makna
عَلَيْكُمْ بِالْجَماعَةِ) الإمامة--artinya adalah : المنتظمة بنصب الإمامة- SETIA TEHADAP PENGUASA YANG JELAS dan TEGAK.
dalam syarh Tuhfatul Ahwadz juga dijelaskan yang dimaksud "Menetapilah Al-Jama'ah/ Setia-lah pada Al Jama'ah adalah:
فقالَ قومٌ: هُوَ للوجُوب، والجماعة السَّواد الأعظم
artinya :Suatu kewajiban untuk setia pada Al-Jama'ah, yaitu Jama'ah Sawad Al-Adzhom, yang artinya
وقيل : المراد جمع المسلمين الذين هم في طاعة الإمام وهو السلطان الأعظم
dimana salah satu makna dari sawd al-adzhom adalah Sejumlah kaum mulimin yang toat pada Imam yang BERPERAN SEBAGAI SULTAN (penguasa)--dalam kitab Miqaat I/206 oleh mula Ali Al-Qari.

Ibn hajar Al Asqolani (Penulis Syarah Bukhari) menjelaskan : قالَ الحافظُ قَوْله: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. أيْ: أميرهم
artinya:yang dimaksud menetapi Al-Jama'ah adalah Menetapi Jam'ah Muslimin dan Imam mereka atau PENGUASA mereka.

*
jadi, jelas dalam Hadits Tirmizi dan syarahnya bahwa makna : Menetapilah Al Jama'ah dalam Sabda Rasulullah
مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ
maksudnya Setia pada Al-Jama'ah Muslimin yang menetapi kebenaran dibawah PENGUASA YANG JELAS.
jadi dalil ini ditujukan sangat inklusif, egaliter dan universal dapat diaplikasikan oleh semua kaum muslimin.
dalil ini tidaklah diperntukan secara ekslusif dan privilese untuk jama'ah tertentu yang mengklaim bahwa kelompoknyalah yang dimaksud AL-Jama'ah.
dalil ini bukan hak istimewa untuk jama'ah yang dibentuk oleh Pak Nurhasan.
jadi, semua kaum muslimin dapat masuk ketengah-tengah syurga Allah TANPA harus bergabung dengan jama'ah jokam.
ya...selama dia berpegang teguh pada Al Qur'an dan Hadits menurut pemahaman salafusalih dan dia mau toat dan patuh pada PENGUASA/ IMAM yang JELAS.
**
inilah mentalitas dan paradigma yang keliru dalam jama'ah kita mengenai hadits " مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ".
kita diindoktrinasi bahwa yang dimaksud al-jama'ah dalam hadits ini adalah jama'ah jokam 354 yang diprakarsai oleh Bp Nurhasan Al-Ubaidah
kita dicekoki sugesti seolah dengan berbai'at dengan Bp Nurhasan dan Imam- imam setelahnya, berarti kita sudah mengamalkan hadits ini dan kita pasti akan masuk ke tengah-tengahnya syurga
seolah untuk masuk syurga, Manusia harus menjadi bagian dari jama'ah 354.
itu semua adalah pemahaman yang keliru dan menyimpang dari tuntunan Rasulullah
akibat kita memahami dalil ini tidak sesuai dengan kaidah yang benar, kita menjadi jama'ah yang arogan dan ekslusif, merasa menjadi "anak-emas" Allah diantara kaum muslimin lainnya di dunia ini. kita menjadi tergelincir pada pemahaman khawarij yang akhirnya dapat berpotensi menjadi kerusuhan di Indonesia .
Indoktrinasi yang dicekoki pak Nurhasan dan ulama-ulamanya memang terlihat mendayu-dayu,benar dan manis....namun dibalik itu semua adalah sebuah brainwashed yang sangat beracun dan berbahaya ditengah kaum muslimin Indonesia dan NKRI
untuk lebih obyektif, adil, terbuka dan berimbang silahkan kalian cek Syarh Hadits tirmizi, Tuhfatul Ahwazi yang membahas dalil مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ disini




pengertian sanad yang menyimpang LDII/Jokam 354

Semenjak era pak Nurhasan sampai zaman pak Kholil Bustomi, kita mendapatkan informasi yang salah mengenai sanad/isnad
kita dicuci-otak bahwa
1. Pak Nurhasan memiliki sanad yang bersambung sampai Rasulullah
2. Kita diindoktrinasi bahwa dengan sanad inilah amal-ibadah kita diterima
3. Kita diindoktrinasi, seolah isnad yang dimiliki pak Nurhasan ini adalah sesutau yang sangat ekslusif yang hanya dimiliki jama'ah kita saja
semua penyelewengan pengertian isnad ini tak lain dan tak bukan adalah metode bp Hji Nurhasan untuk mengikat jama'ahnya dalam genggaman kekuasaannya. supaya kalian mudah dikontrol bagaikan robot oleh sang Imam
apakah Abu Bakar, Umar bin Khotob, Usman dan Ali memiliki isnad?
tidak, penggunaan isnad baru muncul ketika era tabi'in dan isnad berfungsi untuk mendeteksi apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak? apakah valid dari rasulullah atau tidak. Isnad muncul karena adanya pendusta-pendusta yang mencatut-catut nama Rasulullah seolah Rasulullah berkata begini dan begitu.
mana dalilnya?
perhatikan ucapannya Ibn Sirrin dalam Muqodimah Hadits Muslim yang berkata :
لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
Mereka dahulu SELALU TIDAK PERNAH bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : "Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian", maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid'ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka"
cek haditsnya di sini: 

Perhatikan ibn Sirrin menggunakan kata kunci
" لَمْ " + " يَكُوْنُو" +" يَسْأَلُوْنَ"
karena bahasa indonesia tidak mengenal sistem kala (sistem tenses) saya akan menggunakan pendekatan interkoneksi dan integrasi dengan bahasa inggris yang mengenal sistem kala (sistem tenses).
Kata-kata " يَسْأَلُوْنَ" " bermakna bertanya dalam bentuk present-tense.
namun kata-kata ini mendapatkan partikel " لَمْ " yang artinya 'tidak pernah' maka ini menjadi past perfect yang berarti----> had not asked
lalu kata-kata " لَمْ " +" يَسْأَلُوْنَ" mendapatkan sisipan "" يَكُوْنُو"" maka ini menjadi bermakna past perfect + habitual past atau dalam bahasa inggrisnya menjadi "they used not to asked"
dalam bahasa Indonesianya secara harfiah menjadi : Mereka dahulu SELALU TIDAK PERNAH bertanya tentang isnad, ( akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : "Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian", maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid'ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka")
lihatlah, jelas dalam kalimat ini ketika zaman Rasulullah dan Para sahabat, tidak ada satupun dari mereka yang mempunyai sanad dan mengatakan sanad sebagai rukun ibadah. karena waktu itu kondisi hadits masih murni dan belum terkontaminasi pemalsuan hadits.
baru....setelah terjadi fitnah pemalsuan hadits, para ulama bertanya tentang sanad (chain of naration). dan ini ditujukan untuk meverifikasi hadits apakah hadits ini shohih atau palsu?
hujjah selanjutnya, lihatlah hadits yang dibawakan ibn sirrin terdapat dalam sistematika hadits dengan judul bab
بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ
"Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari'at yang mulia".
jelas ibn sirrin berkata ini dalam konteks ilmu Mustholah hadits, dan bukan dalam konteks pengesah sebuah amal ibadah.
ini yang tidak dipahami oleh bapak Nurhasan dan ulama-ulama jokam. mereka memberi pemahaman kepada pengikutnya pada pemahaman yang sangat jauh menyimpang mengenai sanad/isnad
lalu mengenai ucapan ibnu Mubarok yang berkata
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
"Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki"
perkataan ibnu mubarok juga dalam konteks ilmu jarh wa tadil dan sama sekali bukan konteks pengesah amal ibadah
silahkan baca konteks kalimatnya secara lengkap di hadits muslim mengenai perkataan ibnu mubarok ini:http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=53&ID=7&idfrom=34&idto=80&bookid=53&startno=6

**
sedulur, mengenai isnad ini,semua umat islam sudah memilikinya. lihatnya di kitab-kitab hadits yang kamu miliki...sudah ada matan dan isnadnya kan?
isnad yang ada di hadits-hadits itulah yang dimaksud ibnu mubarok dan ibnu sirrin. isnad-isnad itu juga sudah diverifikasi kesahihannya oleh para muhadits-muhadits seperti Syeikh Al-Albani dan ulama-ulama lainnya. umat islam tinggal menikmatinya saja sekarang.
jadi bukan sanad macam yang diklaim dan dimiliki oleh pak Nurhasan dan pak Kholil yang dimaksud oleh Ibnu Mubarok dan Ibni Sirrin.
aku juga punya sanad seperti itu ketika selesai mondok hadits besar di ponpes Mulyo Abadi Jogjakarta (lihat foto dibawah).
maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ust Badrusalam dalam terkait masalah sanad dalam LDII/Jokam 354 cek video : 




kritik preposisi dalil laa islama jokam 354 LDII

Rasulullah pernah bersabda dalam hadits Tirmizi:
{ لا صلاة إلا بطهور }
artinya : Tidak sah sholat apabila tidak berwudhu
partikel " لا " pada kalimat ini dalam ilmu nahwu disebut laa-nafi ( kalimat negasi) yang juga bermakna kalimat syarat
apabila tidak berwudhu maka sholatnya tidak sah.
dalam istilah fiqh, huruf " لا " disini berfungsi :
والنفيُ للوجودِ ثم الصحهْ
(huruf Nafi yang diperuntukan sebagai persyaratan sah atau wujud)
simpelnya : kalau tidak ada A, maka B tidak sah
**
Rasulullah pernah bersabda dalam hadits Tirmizi:
{ لا نكاح إلا بولي }
artinya : tidak sah pernikahan tanpa wali
partikel " لا " pada kalimat ini dalam ilmu nahwu disebut laa-nafi ( kalimat negasi) yang juga bermakna kalimat syarat
Perempuan yang menikah tanpa se-izin wali maka nikahnya batal
dalam istilah fiqh, t huruf " لا " disini berfungsi :
والنفيُ للوجودِ ثم الصحهْ
(huruf Nafi yang diperuntukan sebagai persyaratan sah atau wujud)
simpelnya : kalau tidak ada A, maka B tidak sah
**
lalu Rasulullah bersabda dalam hadits Daruthni:
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد
artinya : tidak bernilai sholat bagi orang yang tinggal disekitaran Masjid kecuali sholatnya di masjid.
pertanyaan : apakah orang yang tinggal disekitaran masjid ketika dia sholat di rumah, sholatnya tidak sah? --- khususnya bagi laki-laki
jawab : sholatnya SAH, hanya sholatnya tidak sempurna, bahkan dia berdosa apabila mendengar azan berkumandang namun ia tidak mau datang ke masjid untuk sholat berjama'ah. NAMUN sholatnya tetap sah
karena huruf " لا " disini bukan berfungsi sebagai للوجودِ ثم الصحهْ
(sebagai penge-sah) tapi berfungsi sebagai
والنفيُ الكمالِ
yaitu huruf " لا " yang berfungsi indikator kesempurnaan. simpelnya : kalau tidak ada A, maka B tidak sempurna.
silahkan cek Fatwa Syeikh bin Baz (Ketua Hai'ah Kibarul Ulama di Makkah) 

**
lalu Rasulullah bersabda dalam hadits Muslim:
وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
artinya : Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman
sahabat bertanya: siapa yang demikian ya Rasulullah
Rasulullah menjawab: yang tetangganya tidak aman dari keburukannya
Pertanyaan : Apakah dari hadits ini orang yang suka menyakiti tetangganya lantas keimanan-nya menjadi tidak sah? keislamannya menjadi tidak sah...lalu dia terhitung kafir?
jawabannya ; orang yang jahat terhadap tetangganya tetap sah keislamannya dan keimanannya namun dia berdosa besar dan tidak sempurna keimanannya dan bahkan tidak bisa masuk syurga kalau orang yang selalu menjahati tetangganya. namun tidak lantas ini mengugurkan keimanannya secara keseluruhan. dia hanya tidak beriman pada kasus itu saja (yaitu tidak berbuat baik pada tetangga) dan bukan keimanannya secara keseluruhan.
karena huruf " لا " disini bukan berfungsi sebagai للوجودِ ثم الصحهْ
(sebagai penge-sah) tapi berfungsi sebagai
والنفيُ الكمالِ
yaitu huruf " لا " sebagai indikator penilaian kesempurnaan
Imam Nawawi ( penulis Syarh Hadits Muslim) menerangkan :
أن معناه ليس مؤمنا كاملا
artinya: (adapun makna tidak beriman dalam hadits ini) adalah tidak beriman secara sempurna
**
lalu bagaimana dengan hadis andalan Jama'ah kita yang berbunyi:
إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama'ah, tidak berjama'ah kecuali dengan ber-imaroh dan tidak berimaroh kecuali dengan bertoat.
apabila hadits ini berdiri sendiri, maka kedudukan hadits ini adalah hadits dhoif, namun karena ada beberapa syawahid (penguat) maka hadits ini menjadi naik-kelas menjadi hasan lighoirihi
oleh bapak Haji Nurhasan kalimat hadits ini kemudian dibalik: kalau tidak toat ya tidak berimaroh, kalau tidak berimaroh ya tidak berjama'ah dan kalau tidak berjama'ah ya tidak Islam.
berangkat dari sinilah , salah satu embrio kenapa kita mengkafirkan orang islam di luar jama'ah kita.
dari sinilah kita menilai sah ke-islam-an seseorang. Apabila dia belum bergabung dengan jama'ah kita dan belum berbai'at pada Imam, maka orang tersebut islamnya tidak sah dan tetap berada di dalam kekafiran kendati orang tesebut tersebut sholat lima 5 waktu, haji, berzakat, berpuasa di bulan romadhon dan bersahadat.
kita dicekoki dengan pemikiran dalil yang sudah diperkosa secara sepihak oleh bp Haji Nurhasan.
huruf " لا " disini bukan berfungsi sebagai للوجودِ ثم الصحهْ
(sebagai penge-sah) tapi berfungsi sebagai
والنفيُ الكمالِ
yaitu huruf " لا " sebagai indikator penilaian kesempurnaan
hadits ini bukan berfungsi sebagai penge-sah keislaman seseorang.
arti yang benar adalah, tidak sempurna keislaman seseorang apabila tidak berjama'ah dan tidak sempurna berjama'ah apabila tidak ber-imaroh dan tidak selayaknya imaroh kalau tidak ada keto'atan.
tidak ada satupun sahabat, tabi'in, tabiut tabiin, Imam Bukhary, Imam Muslim, Imam-imam hadits lainnya, imam 4 madzhab dan ulama-ulama rabani lainnya yang memiliki pemahaman seperti dalam jama'ah kita. ini adalah ro'yi pribadi bp Nurhasan yang tidak ada dasar hukum dan ilmu-nya sama sekali
kesalahan fatal selanjutnya adalah, pak Nurhasan dan para ulama-nya mengartikan Imaroh adalah bentuk ke-amir-an yang diprakarsai oleh pak Nurhasan dan jama'ah yang dimaksud di sini adalah Jama'ah jokam 354/Jama'ah LDII
padahal maksud imaroh dan jama'ah dalam hadits ini adalah Penguasa Muslim.
Rasulullah menggunakan kata-kata 'imaroh' yang semua penutur bahasa arab akan mengartikan bahwa arti imaroh mengacu pada PENGUASA.
Semua kitab Mu'jam mengartikan Imaroh adalah penguasa. Kitab Mu'jam Munjid ( Salah satu kitab otoritatif tentang makna kata) mendefinisikan sbb
الامارة: منصب الاميردولة صغيرة مستقلة يحكمها امير
definisi imaroh adalah sebuah posisi penguasa di daulah/negara kecil indipenden yang diperintah oleh seorang emir (penguasa)#
***
perlu diketahui oleh poro sedulur, hadits yang berbunyi
إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
adalah penggalan kalimat dari sebuah paragraf yang berbunyi
(حديث موقوف) أَخْبَرَنَا أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ ، حَدَّثَنِي صَفْوَانُ بْنُ رُسْتُمَ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَيْسَرَةَ ، عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : تَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبِنَاءِ فِي زَمَنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، فَقَالَ عُمَرُ : " يَا مَعْشَرَ الْعُرَيْبِ ، الْأَرْضَ الْأَرْضَ ، إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ ، فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ ، كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ ، كَانَ هَلَاكًا لَهُ وَلَهُمْ "
yang artinya
“Sebagian manusia bersikap berlebihan dalam membangun di zaman Umar, berkata Umar, "Hai orang-orang Arab, tanah !, tanah Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama'ah, dan tidak ada jama'ah kecuali dengan adanya keamiran dan tidak ada keamiran kecuali dengan taat. Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya karena ilmunya/pemahamannya maka akan menjadi kehidupan bagi dirinya sendiri dan juga bagi mereka, dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya tanpa memiliki ilmu/pemahaman, maka akan menjadi kebinasaan bagi dirinya dan juga bagi
mereka". silahkan cek untuk lebih adil, terbuka dan berimabang di sini: http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=137&pid=64021&hid=253
lihatlah konteks kalimat ini dengan helicopter-view, hadits ini jelas dalam konteks Umar sebagai Khalifah Amirul Mu'minin (Penguasa) yang memerintahkan rakyatnya agar tidak berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi-tinggi. Umar mengatakan
إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
dalam konteks mengingatkan rakyatnya bahwa umar adalah khalifah/amir yang punya hak untuk ditaati perintahnya.
jadi umar berbicara ini sama sekali bukan dalam konteks ke-absah-an nya islam seseorang
nah jadi sudah sangat jelas duduk masalahnya sekarang. Kita selama ini mengartikan hadits
إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
dengan pengertian yang menyimpang bahkan ini adalah sebuah doktrin yang bahaya. Haditsnya benar namun pemahamannya yang dahsyat kelirunya. Orang awam sangat mudah dikecoh dengan logika yang dimainkan pak Nurhasan.
kita memahami dalil ini sangat menyimpang dari kaidah kebahasa-an, kaidah Fikih dan yang terpenting kita tidak memahami ini dengan pemahaman salafu shalih dan ulama yang lurus ilmu dan akidahnya.
akibatnya memakan bulat-bulat dalil yang sudah disimpangkan ini dengan begitu lugu, tanpa ilmu dan tanpa daya kritis, maka jama'ah kita menjadi jama'ah yang chauvinistik, hizbiyyin tulen dan megkafir-kan semua orang islam diluar kelompok kita. kita jadi sangat mudah dipermainkan oleh ulama-ulama su' untuk kepentingan pribadi dan golongan saja. kita menjadi kelinci-kelinci percobaan dari sebuah gerakan khawarij
sudah saatnya kita hijrah paradigma menuju pemahaman yang shahih dan meninggalkan semua indoktrinasi pak Nurhasan.






Nurhasan dan Gadingmangu

apa yang anda pikirkan dg kelakuan pendiri Islam Jama'ah ini:
1. ia mendirikan sekte Islam krn beralasan bhw negara Indonesia dlm keadaan jahiliyyah. Kmdn ia mengangkat dirinya sbg Amir agar hidup orang yg berbaiat padanya hidupnya halal dan masuk surga.
2. Ia kmdn mengajak teman-temannya "hijrah" ke Gading Mangu Jombang dan kmdn menyebut penduduk Gading Mangu yg mau bergabung dgnya sbg Anshor dan menyebut temen-temennya yg "hijrah" sbg Muhajir.
3. Ia mengangkat teman-temannya sbg wakilnya dg nama wakil 4
4. Ia "berdakwah" dg menggunakan ilmu kanuragan dan ilmu sihir utk menarik umat agar bergabung dgnya.
5. Ia mengatakan bhw brg siapa yg tidak mengakui keimamannya mk adalah kafir, dan brg siapa yg mengakui keimamannya, berbaiat pdnya, dan mengikuti ajarannya mk ia adalah orang iman.
6. dll, yang terlalu panjang utk ditampilkan.
Kalo kita mau mencermati, maka kita akan menjumpai pola, bahwa ia memposisikan dirinya sebagai Nabi Muhammad.
Lihatlah!! 1. Nabi terutus ketika masyarakat Quraisy dan seluruh dunia dlm keadaan jahiliyyah. Dan Nabi Muhammad mengajak manusia utk bertauhid pd Allah agar masuk surga dan selamat dari neraka.
2. Shahabat Nabi diajak hijrah ke Madinah dan penduduk Madinah yg beriman disebut sbg Anshor dan Shahabat yg hijrah disebut Muhajir.
3. Shahabat Nabi yg sangat dekat dg beliau yg akhirnya menjadi kholifah jumlahnya ada 4.
4. Rosululloh diberi mu'jizat Allah dg mu'jizat yg sangat menakjubkan guna menghinakan kafirin.
5. Barang siapa yg tidak mau mengakui kenabian Muhammad mk ia adalah kafir dan brg siapa yg mengakui, bersyahadat, dan mengikuti ajakannya maka ia adalah orang iman.
Jadi sangat jelas, bahwa ia memposisikan dirinya sbg Nabi Muhammad. Wahai para pengikut Islam Jama'ah..sadarlah bahwa pikiran kalian sedang diarahkan dan dicuci otak oleh pemimpin Islam Jama'ah!!!

Jama'ah dilarang membaca kitab karangan

Jama'ah dilarang membaca kitab karangan
Demikianlah perintah pengurus pusat kepada rukyah Jokam.
Maka hendaknya Jokam mengetahui, bahwa kitab yang ditulis oleh para Ulama' itu dikarenakan para Ulama' mengamalkan hadits berikut
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya)” Silsilah As - Shahihah
Dalam riwayat yang lain
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، وَقَالُوا: تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَاءِ؟ فَأَمْسَكْتُ عَنْ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِإِصْبَعِهِ إِلَى فِيهِ، وَقَالَ: " اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ "
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata : “Dulu aku aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk aku hapalkan. Namun orang-orang Quraisy melarangku. Mereka berkata : ‘Engkau menulis semua yang engkau dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanyalah manusia biasa yang berbicara dalam keadaan marah dan ridlaa ?’. Akupun berhenti menulis, dan kemudian aku sebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda : ‘Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 501; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, dan yang lainnya].
Adapun kitab yang dikarang Ulama', jenisnya bermacam macam, diantaranya
- kitab yang isinya hanya berisi matan hadits, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim
- kitab yang isinya syarah hadits, dalam kitab seperti ini, Sang Ulama' penulis kitab, memberikan penjelasan/keterangan manqul pada hadits hadits, contohnya fathul bari karya Ibnu Hajar, syarah shahih Muslim karya Imam An Nawawi
- kitab tafsir Al Qur'an, yaitu kitab yang membahas tafsir Al Qur'an, dimana pada kitab jenis ini, Sang Ulama' penulis kitab, memberikan penafsiran/keterangan manqul terhadap ayat ayat Al Qur'an. Contohnya adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalayn, tafsir Muyassar, dll
Dan banyak jenis kitab yang laim seperti kitab fiqh, kitab aqidah, kitab nahwu sharaf, kitab tarikh/sejarah, kitab siroh/biografi, dll.
Dengan mengetahui hakikat kitab karangan, maka kitab himpunan jokam, makalah CAI, kitab syarah asma'ul husna, juga termasuk kitab karangan.
Sesuatu yang mengherankan dari pengurus pusat adalah
- Mereka melarang rukyah Jokam membaca kitab karangan
- Mereka tidak pernah menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan kitab karangan
- Tapi pengurus pusat membuat kitab karangan (himpunan, makalah CAI, syarah asmaul husna) yang sumbernya berasal dari kitab karangan juga....
Semoga bermanfaat bagi Jokam yang berakal sehat