Jumat, 04 Maret 2016

Penunjukan Bapak Abdullah Mas'ud menjadi Imam Sholat Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi


merupakan sutu kebanggan buat jama’ah, Bp Abdullah Mas’ud (dokumentasi bulan Juni 2015) yang merupakan Mubaligh Jokam asal lampung telah menyelesaikan studinya (rangking ke-8) di Ma’had Al Haram. Ma’had Al-haram adalah institusi yang mulia dimana ribuan thulab mengimpikan bisa belajar di sana. Sebuah Ma’had yang tegar konsisten dan istiqomah dalam menegakkan Qur’an dan Hadits secara murni yang meneladani pada tindak tanduk dan tuturan yang dinisbahkan pada Generasi Salafu Shalih.

Dalam sebuah Situs resmi LDII, karena prestasinya ini, Bp Abdullah Mas’ud dipercaya akan menjadi Imam Sholat di Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi.

Adalah hal sangat membanggakan, Bp Abdullah Mas’ud yang merupakan putera asli Indonesia menjadi Imam Sholat di Masjid kiblat umat islam di seluruh dunia. Fenomena ini sangat jarang terjadi, karena dapukan Imam-Imam Sholat Masjid Al Haram/Nabawi adalah hak dari Ulama-ulama tuan rumah (baca :saudi arabia). Sedangkan Bp Abdullah Mas’ud adalah Warga Negara Indonesia. Ini fenomena. Atau biasanya Imam-Imam Sholat Masjid Al Haram/ Nabawi adalah ulama-ulama senior yang sudah masyur akan kredibilitasnya, kokoh akidahnya dan baik akhlaknya. Merupakan hal yang luar biasa Kerajaan Saudi Arabia memberikan kepercayaan pada seorang siswa yang baru lulus belajar dan rangking 8 untuk segera menjadi Imam Sholat di masjid Alharam dan Nabawi. Tanpa bermaksud merendahkan Bp Abdullah Mas’ud, di atas bp Abdullah Mas’ud ada ribuan ulama yang strata bachelor, master, Profesor, Masyaikh allamah, yang dilewati Bp Abdullah Mas’ud.untuk menjadi Imam Sholat. Bahkan sampai sekarang ( Maret 2016) belum pernah terdengar Bp Abdullah Mas’ud menjadi Imam Sholat di Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi. Silahkan dicek ke para Jama’ah Haji dan Peserta Umroh yang pergi ke Mekkah dan Madinah. Silahkan di cek ke para mukimin di mekkah dan madinah.

Logika kita menggiring, kalau seandainya bapak Abdullah Mas’ud yang rangking 8 didaulat untuk menjadi Imam Sholat di masjid Al haram dan Nabawi, mengapa yang Rangking 1-7 tidak dipercaya menjadi Imam Sholat di Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi? Logikanya yang rangking 1-7, secara keilmuan lebih baik daripada yang rangking 8 bukan?
Aku semakin skeptis bahwa Bp Imam, Pengurus LDII telah membohongi kita-kita Rokyahnya dengan desepsi-desepsi yang sangat lugu dan konyol. Apakah Rokyah sebegitu bodohnya dihadapan pengurus? Cerita-cerita bohong yang mencatut kemuliaan nama Alharamain selalu berulang dan berulang. Ini selalu dijadikan komoditas kebohongan untuk mendongkrak kebanggaan semu dan fanatisme sesaat. (bahkan dalam situs LDII, LDII tidak bisa membedakan antara ma'had alharam dengan ummul Quro)

Kita sendiri masih belum tahu bagaimana sikap dari Bp Abdullah Mas’ud setelah lulus dan Alharamain. Apakah mendukung status Quo ajaran Bp Nurhasan Al-ubaidah, ataukah beliau berani bertindak seperti Imam Ahmad Bin Hambal yang secara lantang dan tegar mengatakan kebenaran? Beliau memang orang SB yang hidupnya disubsidi dari SB. Tentu ini menjadi tantangan untuk beliau, apakah beliau berani mengadakan perubahan? Tentu beliau ada sindrom utang-budi bagi Bp Abdullah Mas’ud terhadap Keimaman yang telah menunjang kehidupannya sehingga itu bisa menjadi faktor yang menjadikan beliau untuk tetap merahasiakan kebenaran demi tercegahnya gegeran di tubuh jokam?
Dahulu...Nabi Musa juga pernah mengalami dilema seperti ini. Tatkala, Nabi Musa diperintahkan untuk mendakwahi Fir’aun. Nabi Musa mengalami sindrom utang-budi terhadap fir’aun karena nabi Musa dibesarkan dan diramut di Istana Fir’aun. Nabi Musa juga akan terbimbangkan “apakah aku harus “melawan” orang yang selama ini meramut kehidupanku?. Namun Nabi Musa berkat bimbingan Allah SWT tetap menjalankan tanggungjawab dakwah dibanding menuruti dilema batinnya. Nabi Musa segera Move-on dari kebimbangan. Layaknya Arjuna meninggalkan kebimbangan ketika harus menghadapi guru-gurunya yang sangat dicintainya di padang Kurusetra pada epos Mahabarata.
Namun ada satu kelebihan dari Pak Abdullah Mas’ud dibanding dengan Kholil Bustomi dan Bp Aziz Ridwan yang juga pernah belajar ilmu agama di Ma’had Al haramain. Bp Abdullah Mas’ud bukan dari sanak famili anggota kerajaan Bp Nurhasan. Ini adalah faktor yang bisa diharapkan dari bp Abdullah Mas’ud untuk bertindak Indipenden dan tidak bisa didikte oleh rezim status Quo. Bapak Abdullah Mas’ud masih jauh dari tahta singgasana keamiran. Berbeda halnya dengan Bp Kholil dan Bp Abdul Aziz yang istri-istri mereka adalah anak-anak dari Keluarga Amir. Istri pak Kholil adalah Anak dari bp Abdul Dhohir (Imam ke-2 Jama’ah), sedangkan Istri Bp Abdul Aziz adalah anak dari Adik Pak Abdul Dhohir ( Cak Dawud, anybody knows precisely?). Faktor ikatan famili dengan keluarga kerajaan menjadi salah satu faktor kenapa Pak Kholil dan Pak Aziz justru lebih memilih melacurkan amanat ilmu yang mereka timba di Masjid Al Haram dan lebih memilih kebohongan dengan dalih supaya kerajaan yang dibentuk pak Nurhasan dan stabilitas jama’ah tetap terjaga.
**
Baiklah, sekarang mari kita lihat juga keterangan dari situs resmi LDII yang mengatakan bahwa Bp Abdullah Mas’ud harus memakan waktu 10 tahun untuk menamatkan belajar di Ma’had Alharamain. Ini tentu sebuah waktu yang terlalu lama untuk menamatkan sebuah pendidikan berlevel Tsanawiyah atau Aliyah. Ini ibarat kamu lulus dari SMU ( Sekolah Menengah Umum) dengan Rangking 8 namun harus ditempuh selama 10 tahun. Ini tentu kelamaan. Alih-alih menjadi kesombongan dan kebanggaan semu belaka oleh jama’ah jokam, seharusnya ini justru dijadikan ketawadhuan: Sadar diri bahwa di atas langit masih ada langit.

Dan....Dengan usia setengah baya dan belajar 10 tahun, seharusnya bapak Abdullah Mas’ud sudah mencapai gelar Doktor dan bukannya level baru lulus. Namun tetap...apapun derajat pendidikannya, Bp Abdullah Mas’ud sudah melakukan tindakan kemuliaan. Karena di usia se-tua itu beliau tetap istiqomah dalam bertholibul-ilm, walaupun harus set-back ke level tsanawiyah/aliyah/basic-intermediate dahulu. Tidak ada istilah terlambat dalam mencari ilmu. Bahkan Ibnu Hajar Al Asqolani, sang penulis Syarh Bukhary Fathiu Bari juga baru memulai menuliskan magnum opusnya (kitab Fathu bari ) di usia yang tidak lagi muda.

Tulisan ini semata hanya untuk mengajak eling-diri, tawadhu terhadap ilmu dan yang terpenting amanah terhadap ilmu. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan

Sumber Penulisan : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=236790609996126&id=236757996666054